Kamis, 19 April 2012

alat panen

Mesin Panen Tebu

(SUGARCANE HARVESTER)

Deskripsi
Pada pendahuluan akan dijelaskan tentang metode dan peralatan panen tebu dan jagung, proses fungsional mesin panen tebu dan jagung, serta kalibrasi dan evaluasi kinerja
Relevansi
Pemahaman tentang mesin panen tebu (cane harvester) dan mesin panen jagung (corn harvester) sangat penting dalam pengelolaan pertanian modern.  Dengan memahami bagian atau komponen mesin dan cara kerja serta kinerja, maka pengelolanya akan dapat merencanakan dan mengatur penggunaan mesin panen tebu dan jagung secara efektif dan efisien (ekonomis).  Dengan demikian akan mendukung proses budidaya keseluruhan secara mekanis.

Tujuan instruksional khusus

Mahasiswa akan dapat menjelaskan bagian alat dan mesin, cara kerja, kinerja dan menguraikan prinsip-prinsip mekanika dari mesin panen tebu dan jagung



����������� Pemanenan tebu dapat dilakukan dengan beberapa cara.Berdasarkan atas keadaan tebu yang ditebang, cara pemanenan tebu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) pemanenan tebu hijau (green cane), dan (2) pemanenan tebu bakar (burnt cane).Berdasarkan atas sumber tenaga utama yang digunakan, pemanenan tebu dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: (1) pemanenan tebu secara manual, dan (2) pemanenan tebu secara mekanis.

����������� Pemanenan tebu hijau dilakukan secara langsung tanpa ada perlakuan lain terhadap tanaman tebu sebelum dipanen.Pemanenan tebu bakar dilakukan setelah tanaman tebu dibakar untuk membersihkan sampah daun tebu.

 

Pemanenan tebu secara manual

����������� Pemanenan tebu secara manual dilakukan dengan dua cara, yaitu: (1) loose cane, dan (2) bundle cane.Hasil panen dengan cara loose cane berbentuk tebu lonjoran yang lepas dan dimuat ke kendaraan angkut menggunakan grab loader, sedangkan hasil panen dengan cara bundle cane berbentuk tebu lonjoran yang terikat dan dimuat ke kendaraan angkut menggunakan tenaga manusia.

����������� Tahap pelaksanaan pemanenan tebu dengan cara loose cane (Soepardan, 1988):

(a)    Daun tebu kering (klaras) dibersihkan dan diletakkan dalam satu barisan

(b)    Pangkal batang tebu di permukaan tanah dipotong

(c)    Pucuk batang tebu dipotong

(d)    Potongan batang tebu ditumpuk pada satu barisan; umumnya 4 atau 6 deretan tebu yang telah ditebang disusun menjadi 1 deretan melintang.

Tahap-tahap pemanenan tebu dengan cara bundle cane adalah sama dengan cara loose cane, perbedaannya terletak pada potongan batang-batang tebu yang diikat dengan jumlah tertentu kemudian disusun pada suatu barisan.

����������� Kapasitas lapang pemanenan tebu secara manual umumnya sebesar 0.0025 ha/jam/orang.Apabila dalam 1 hari bekerja selama 8 jam maka akan diperoleh luasan tebu panen sebesar 0.02 ha, atau 1.6 ton tebu panen/hari/orang (TCH 80 ton/ha).Pabrik gula yang mempunyai areal tebu panen seluas 15 000 ha, maka akan diperlukan 750 000 hari-orang pemanen tebu.Apabila waktu panen selama 180 hari maka setiap hari kerja diperlukan 4.167 orang pemanen tebu.Kondisi ini telah memicu penggunaan mesin panen tebu yang mempunyai kapasitas tebang lebih besar.

 

Pemanenan tebu secara mekanis

����������� Faktor-faktor yang menyebabkan dilakukannya pemanenan tebu secara mekanis menggunakan mesin panen tebu (sugarcane harvester), diantaranya adalah:

(1)    Kesulitan memperoleh tenaga kerja tebang tebu karena adanya persaingan memperoleh tenaga kerja tebang tebu, terutama untuk pabrik gula di daerah yang jarang penduduknya

(2)    Tenaga kerja tebang tebu hanya bekerja selama 8 jam/hari pada siang hari, sedangkan mesin panen tebu dapat bekerja selama 24 jam/hari

(3)    Kapasitas tebang tebu mesin panen tebu jauh lebih besar dibanding tenaga kerja tebang tebu

(4)    Waktu panen tebu yang optimum umumnya relatif singkat sehingga penggunaan mesin panen tebu (sugarcane harvester), terutama pada daerah dengan tenaga kerja terbatas, akan dapat membantu menyelesaikan kegiatan pemanenan tebu pada waktu yang telah ditentukan, sehingga susut tebu atau gula dapat dikurangi (Abreu et al., 1980).

����������� Faktor-faktor yang ditimbulkan oleh keadaan lahan tempat mesin panen tebu dioperasikan yang mempengaruhi efisiensi waktu dan biaya pemanenan, diantaranya adalah:

(1)    Kemiringan lahan

(2)    Pola kebun

(3)    Tinggi dan panjang guludan

(4)    Kebersihan lahan dari benda-benda yang dapat mengganggu kinerja mesin.

����������� Pemanenan tebu secara mekanis dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: (1) menggunakan wholestalk harvester, dan (2) menggunakan chopper harvester.Kedua jenis mesin panen tebu tersebut berbeda dalam hal hasil potongan batang tebu panen.

����������� Wholestalk harvester memotong tebu pada pangkal batang dekat permukaan tanah, kemudian dibawa ke belakang dan disusun di atas guludan.Dengan demikian, tebu hasil panen masih berupa lonjoran batang tebu (utuh) yang diletakkan di atas permukaan tanah.Tebu hasil panen dengan cara seperti ini sering tercampur kotoran (tanah) pada saat pemuatannya ke alat angkut yang akan membawanya ke pabrik.

����������� Chopper harvester memotong tebu berupa potongan-potongan berukuran pendek. Tebu yang sudah dipotong pada pangkal batangnya akan dipotong lagi menjadi potongan-potongan lebih pendek yang disebut billet dengan ukuran 20 � 40 cm (Gentil dan Ripolli, 1977).

����������� Penggunaan chopper harvester akan lebih menguntungkan dibanding wholestalk harvester untuk beberapa kondisi tertentu.Pada Tabel 1 diperlihatkan perbedaan penggunaan dan hasil panen tebu menggunakan kedua jenis mesin panen tebu tersebut.

 

�������������� Tabel 1. Perbedaan penggunaan dan hasil panen tebu menggunakan����������� ����wholestalk harvester dan chopper harvester

Indikator

Wholestalk Harvester

Chopper Harvester

Proses pemanenan tebu

Memotong tebu pada pangkal batang dekat permukaan tanah, kemudian dibawa ke belakang dan disusun di atas guludan

Tebu yang sudah dipotong pada pangkal batangnya akan dipotong lagi menjadi potongan-potongan lebih pendek

Ukuran batang tebu panen

Lonjoran (batang tebu utuh)

Potongan-potongan pendek

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar